BOOM!!!…. Dan Hatipun Tergetar


Pengeboman 3 Gereja di Surabaya dan dilanjut keesokan harinya dengan pengeboman di Polrestabes Surabaya cukup sukses meninggalkan kemirisan dalam hati saya. Betapa tidak, kedua peristiwa tersebut dilakukan oleh 2 keluarga. Lengkap mulai bapak, ibu dan anak-anaknya.

Hari Ahad dilakukan oleh suami istri dengan 4 anaknya. Hari Senin dilakukan oleh suami istri dan 3 anaknya.

Terus terang saya gak mampu menyelami apa yang ada dalam pikiran mereka. Justru saya bingung kenapa sampai mengajak anak-anak? Lebih bingung lagi kenapa kok lebih mirip peristiwa bunuh diri massal 1 keluarga dibandingkan sebuah teror?

Walaupun saya bukan orang jahat, tapi setidaknya bisalah memperhitungkan hasil dan resiko. Bom bunuh diri itu resikonya jauh lebih besar daripada hasilnya. Perencananya pasti goblok banget.

Seandainya tujuannya hanya bikin gempar, manfaatkan aja SMS teror ke tempat2 umum. Bilang ada bom. Lalu pasang bom di tempat2 tersebut dengan timer. Gak perlu bunuh diri. Kalaupun gagal, ya resikonya cuma ketahuan gitu aja.

Lha ini, korbannya 17 orang, yang 14 orang pelaku. Ini kayak mau bunuh 3 orang tapi mengerahkan 14 pasukan. Idiot banget!!

Padahal kalau mau bunuh 3 orang, sebenarnya cukup 1 orang bawa golok dan bacok sebanyak mungkin orang di kerumunan udah dapat banyak tuh. Kalaupun akhirnya mati, cuma mati 1 pasukan.

Lalu saya coba berusaha memahami, kenapa mereka tega melakukan itu. Doktrin seperti apa yang sudah diajarkan. Apakah mereka sadar saat melakukannya ataukah terkena pengaruh obat2-an atau hipnotis? Yang pasti, akal sehat akan menolak hal tersebut.

SEMUA BERAWAL DARI KELUARGA

Ideologi itu bermula dari keluarga. Dia tidak akan masuk ke dalam diri anak-anak jika sejak kecil telah ditanamkan ideologi yang baik. Ibu adalah madrasah pertama anak. Saat menyusui, saat menidurkan, saat menemani di periode emas pertumbuhan, adalah saat2 terbaik menanamkan aqidah dan ideologi yang baik.

Ketika anak sudah mulai dewasa, mulai mencari-cari jawaban atas berbagai pertanyaan penting dalam hidupnya, saat itulah peran ayah yang harus dominan. Ayahlah yang harus mengajarkan mana yang Haq dan mana yang Bathil. Karena sosok ayah itu “tegaan”. Dia banyak memakai akal daripada perasaan. Maka peran sebagai pembeda, haruslah dipegang seorang ayah.

Jika anak-anak dibiarkan mencari jawaban sendiri, tak ada yang menuntun, maka kita tak akan tahu jawaban apa yang dia temukan. Bila kebetulan bertemu dengan jamaah yang baik, alhamdulillah.. insyaaLlah jadi baik walaupun tanpa peran orang tua. Tapi jika ketemunya jamaah yang bermasalah ya jadinya bermasalah juga.

Maka mari perhatikan anak-anak kita. Uang yang kita berikan, gadget yang kita hadiahkan, hanyalah sebuah faktor untuk mempercepat saja. Sementara pemahaman yang kita tanamkan adalah faktor penting yang akan mengarahkan anak menjadi manusia seperti apa kelak.